Karya AI Terlihat Pintar tapi Tak Pernah Menggetarkan Hati
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Meski kini siapa pun bisa memakai kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk menulis puisi, dongeng anak, atau skenario film, tetap ada satu hal yang tidak bisa dilakukan mesin: menghadirkan kedalaman rasa.
Dalam studi terbaru yang terbit di jurnal Nature Human Behaviour pada 4 Juni 2025, para peneliti mengungkapkan bahwa AI — khususnya yang berbasis Large Language Models (LLM) — tidak mampu memahami pengalaman sensorik dan motorik sebagaimana manusia. Artinya, AI bisa mendeskripsikan bunga, tetapi tak pernah benar-benar “merasakan” bunga itu.
“Model bahasa besar tidak bisa mencium aroma mawar, menyentuh kelopak aster, atau berjalan di ladang bunga liar,” ujar Qihui Xu dari Ohio State University, penulis utama studi. “Tanpa tubuh dan pengalaman, AI kehilangan makna sejati dari kata-kata itu.
AI Tak Bisa Mencium dan Menyentuh
LLM bekerja dengan mempelajari pola dari data teks atau gambar yang dikumpulkan dari internet. Namun, tidak seperti manusia, AI tidak memiliki tubuh yang bisa merasakan — mencium, menyentuh, atau bergerak.
Maka ketika diminta menggambarkan sesuatu yang berhubungan dengan indera, seperti bau bunga atau teksturnya, AI kerap menghasilkan deskripsi yang terasa hambar dan datar.
Studi Xu menunjukkan bahwa AI kesulitan membentuk konsep dari kata-kata yang berakar pada pengalaman fisik. Misalnya, ketika manusia membaca kata "bunga", ingatan masa kecil tentang bermain di taman atau aroma khas bunga favorit bisa langsung muncul. AI tak punya kapasitas itu.
“AI bisa tampak kreatif, tapi yang dihasilkannya sering kali hanya sekadar memenuhi syarat minimum — indah di permukaan, tapi kosong di dalam,” kata Mark Runco, ilmuwan kognitif dari Southern Oregon University.
Menuju AI yang Lebih Sensorik?
Sebagian AI kini mulai dilatih tidak hanya dengan teks, tapi juga dengan gambar dan video. Ini membuatnya sedikit lebih baik dalam membentuk konsep visual, namun masih sangat terbatas pada pengalaman lainnya seperti suara, sentuhan, atau bau.
Para peneliti menyebut bahwa suatu saat mungkin kita akan melihat AI yang dilengkapi kemampuan sensorik melalui robotika dan data multisensorik. Namun, menurut para ahli, meski teknologinya berkembang, AI tetap tidak akan sepenuhnya memahami dunia seperti manusia.