Keunggulan Bersaing Kelontong Madura

Ilustrasi toko kelontong Madura.
Sumber :
  • Dok pribadi Sirajul Arifin dan VIVA.co.id

BEBERAPA bulan terakhir saya mengamati warung Madura (selanjutnya disebut dengan warung M atau kelontong M). Saya sebut kelontong karena menjual kebutuhan pokok dalam jumlah kecil. Kelontong dikelola secara tradisional dan biasanya oleh keluarga. Lokasinya dekat dengan pemukiman, sehingga mudah dijangkau. Buka lebih fleksibel dibanding toko modern. Sistem pelayanannya sederhana dan pembeli umumnya langsung dilayani oleh pemilik kelontong. Kelontong M di sekitar rumah saya, di desa saya, dan bukan desa yang lain. Dari satu titik ke titik yang lain kelontong M terlihat terus bertambah. Pertambahannya sangat cepat dan sangat signifikan. 

img_title Mengenal Ahmad Nawardi, Anggota DPD RI Peraih Anugerah Sapta Aghita 2025

Sementara ada toko yang sudah lama dan memiliki pasar yang sangat kuat ternyata mulai redup bahkan kini telah tiada. Tokonya bukan sekadar toko biasa, tetapi toko yang tampak sulit untuk redup apalagi tutup. Kondisi yang kontras, “hidup” dan “mati”, itu menggugah saya untuk tahu banyak.  Saya tertarik untuk mengetahui penyebabnya. Saya harus menelusurinya. Suatu hari saya mengantarkan anak berobat. Di klinik yang tak jauh dari toko yang telah tiada. Saya menanyakan kepada beberapa orang yang selalu berada di dekatnya. Saya memulainya dengan pertanyaan, “maaf pak. Apa toko itu tutup?” Iya mas, jawabnya. “Kira-kira kenapa, pak?” Ketika ia mau menjawab, ia bergegas harus melayani orang lain. Tergesa pindah layanan karena tuntutan profesinya. 

Saya tak boleh mengganggunya. Ia memindahkan motor dan mengantarkan pemiliknya yang mau menyebrang jalan. Saya tunggu sampai ia benar-benar longgar untuk menjawab pertanyaan saya. Sungguh saya penasaran karena tokonya besar dan sudah lama di tempat itu. Lalu kini harus mengalami nasib terpuruk, “tutup usia.” Toko yang secara akal tak masuk akal jika harus tutup usia karena tergolong sebagai market leader. Pemimpin pasar yang tak mudah terkalahkan. Tokonya besar dan cabangnya berada di mana-mana. Namun ternyata kalah dengan pendatang baru. Para pendatang yang mengepungnya. Jarak antar kelontong baru tak jauh dan dekat dengan toko yang telah tiada. Bukan tidak ada tokonya, tetapi adanya seperti tidak ada. Ada tokonya tapi tak lagi melayani calon pembeli.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title 4 Komplotan Ganjal ATM Asal Lampung Ditangkap di Lamongan, Pelaku Belajar dari YouTube