Forum Guru Besar Soroti Transisi Kepemimpinan UIN Sunan Ampel

Juru bicara Forum Komunikasi Guru Besar UINSA, Prof. Dr. H. Imam Ghazali Said.
Sumber :
  • Achmad Faizal/Surabaya

Surabaya, VIVA Jatim-Forum Komunikasi Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menyampaikan sejumlah catatan kritis terhadap tata kelola kampus menjelang berakhirnya proses transisi kepemimpinan.

img_title Rektor UINSA Dilantik, Beredar Surat Panggilan Pemeriksaan Dugaan Kasus Suap Kopertais Wilayah IV

Forum menilai momentum pergantian rektor harus dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola universitas dan mengembalikan iklim akademik yang sehat.

Juru bicara Forum Komunikasi Guru Besar UINSA, Prof. Dr. H. Imam Ghazali Said, menjelaskan bahwa pernyataan tersebut lahir dari diskusi intensif para guru besar yang berlangsung sejak 10–11 Juli 2026 melalui pertemuan terbatas maupun komunikasi daring.

img_title Alumni Baru UIN Sunan Ampel Resah, Ijazah akan Ditandatangani Plt, Bukan Rektor Definitif

Menurutnya, forum tidak bermaksud mempersoalkan individu tertentu, melainkan ingin memastikan bahwa proses transisi kepemimpinan berlangsung sesuai prinsip tata kelola perguruan tinggi yang baik.

"Yang kami dorong adalah evaluasi kelembagaan secara menyeluruh. Pergantian kepemimpinan merupakan momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas akademik, dan membangun kembali kepercayaan seluruh sivitas akademika," ujar Ghazali.

img_title KKN UINSA Buat Terobosan, Ajak 35 UMKM Ikuti Sosialisasi NIB dan Sertifikat Halal

Forum mencermati bahwa setelah berakhirnya masa jabatan rektor pada 6 Juni 2026, sejumlah jabatan strategis di lingkungan universitas masih diisi oleh pelaksana tugas (Plt).

Kondisi tersebut, menurut Forum, berpotensi memengaruhi efektivitas pengambilan keputusan dan kepastian administrasi apabila berlangsung terlalu lama.

Selain itu, Forum juga menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap capaian kinerja UINSA selama periode 2022–2026 dengan menggunakan indikator yang terukur, seperti mutu akademik, akreditasi institusi, produktivitas penelitian, publikasi ilmiah, penguatan sumber daya manusia, pelayanan mahasiswa, jejaring internasional, serta tata kelola kelembagaan.

Salah satu contoh yang disoroti adalah persoalan masa berlaku akreditasi institusi pada 2024 yang sempat menjadi perhatian sivitas akademika.

Menurut Forum, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting agar pengelolaan akreditasi di masa depan dilakukan secara lebih sistematis dan antisipatif.

Forum juga menyoroti posisi UINSA dalam produktivitas publikasi ilmiah nasional. Berdasarkan data SINTA periode 2022–2025, UINSA berada pada peringkat keenam di antara UIN di Indonesia.

Bagi Forum, data tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, tetapi tetap menjadi indikator penting dalam mengukur tradisi akademik dan reputasi universitas.

Forum ini, menurut Ghazali, menekankan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi bisnis.

Halaman Selanjutnya
img_title