Miris! Pria di Surabaya Eksploitasi 2 Anak Kandung demi Bantuan
- Mokhamad Dofir/Viva Jatim
Surabaya, VIVA Jatim – Ironis. Dua bocah di Surabaya harus dievakuasi Pemerintah Kota (Pemkot) usai diduga menjadi korban kekerasan sekaligus dimanfaatkan ayah kandungnya untuk meraih simpati bantuan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Surabaya, Ida Widayati mengungkapkan, kasus ini terungkap usai pihaknya menerima laporan adanya seorang pria berinisial BS, warga Kecamatan Tenggilis, yang hidup bersama dua anaknya dalam kondisi memprihatinkan.
Dari informasi awal, BS memiliki tiga anak. Sementara sang istri telah lama pergi setelah mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
"Istrinya [BS] sudah lama [perginya] tahunan, 3 sampai 4 tahun lalu. Termasuk anaknya yang pertama itu juga di KDRT," kata Ida, Jumat, 12 September 2025.
Anak pertama, BE berusia 16 tahun, memilih tinggal di gereja. Sedangkan dua adiknya, masing-masing B (7) dan A (4), masih bertahan dengan ayahnya. Namun nahas, keduanya justru dimanfaatkan BS agar tetap menerima bantuan.
"Hidupnya BS ini kan bergantung bantuan gereja, kalau anak-anak ini sudah enggak di situ orang yang mau mengasih bantuan pikir dulu. Buat makan itu mereka pesan ojek online terus," jelasnya.
BS beralasan tak lagi bisa bekerja sejak jatuh di kamar mandi setahun lalu. Namun, kondisi itu menurut Ida bukan berarti lumpuh total.
"Bapaknya ini kondisinya sakit, bukan lumpuh cuma memang kesulitan jalan. Sebetulnya kalau bisa berusaha tapi ini enggak, anak-anaknya malah dieksploitasi untuk bisa dapat bantuan," ujarnya.
Melihat situasi tersebut, Pemkot memutuskan mengevakuasi dua anak BS agar mendapat kehidupan lebih layak. Sementara sang ayah kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Menur.
"Kemarin dua anak ini kami evakuasi karena sudah enggak memungkinkan dengan kondisi kayak gitu, rumahnya sudah tidak layak. Kondisi bapaknya juga menurut kami depresi," ucapnya.
Anak-anak tersebut kini dipertemukan kembali dengan sang kakak di panti milik gereja. Meski begitu, Pemkot memastikan tetap memberikan pendampingan psikologis.
"Kalau anaknya ini kami gabungkan dengan kakaknya [yang melarikan diri], untuk bisa jadi satu, di panti milik gereja. Meskipun begitu kami tetap dampingi untuk melihat kondisi psikologisnya," tutupnya.