Kiai Yunus Jajar Trenggalek Istiqomah Mengaji, Pernah Mondok 21 Tahun di Lirboyo Kediri
- Viva Jatim/Madchan Jazuli
Kiai kelahiran 1952 ini mengenang Kiai Yunus dalam mengajarkan santri-santri di madrasah menggunakan metode seperti di Lirboyo. Harus benar-benar memahami taqrir dan murod.
Taqrir dalam konteks nahwu bisa juga dipahami sebagai penjelasan atau penjelasan detail suatu konsep atau kaidah. Sedangkan murod merujuk pada makna yang ingin disampaikan atau dipahami dari suatu lafazh (ungkapan) maupun kalam (kalimat).
"Mbah Unus kalau mulang dibaca sak maknane, taqrirane terus di murodi. (kalau ngajar dibaca sekalian arti, taqrir serta murod). Kalau tidak Bahasa Indonesia ya klakep," canda beliau.
Sampai-sampai ada santri, Kiai Qornen Kedunglurah itu sebangku dengan dirinya karena tidak bisa Bahasa Indonesia. Sehingga membuat santri benar-benar memahami baik secara harfiah maupun maknawiyah.
"Sampai Mbah Qornen itu sebangku dengan saya sama saking tidak bisa Bahasa Indonesia. Waktu ngahar itu taqriran harus bisa membaca dan juga bisa murodi dengan membaca bahasa Indonesia. Jibek (susah) Mbah Qornen," tawanya lirih.
Kiai yang memiliki putra putri 5 ini membenarkan bahwa Kiai Yunus memiliki kelebihan banyak santri merasakan. Yaitu ketika mengaji di serambi Masjid Jajar atau masjid pondok, santri yang berada di kejauhan terdengar.
"Jadi santri yang bertempat di sebelah utara, ya terdengar, ya tidak keras. Santri di sampingnya juga tidak terlalu keras. Misal ngaji disini, (serambi) dari rumah situ terdengar," akuinya.
Dikatakannya, dahulu ngaji di serambi Kiai Yunus Istiqomah berada di tiang selatan timur menghadap barat. Namun santri yang berada di pinggir serambi, pintu sebelah serta banguna dahulu tidak seperti ini.
"Masih terhalang dinding juga terdengar, benar itu pas ngaji kitab, kok bisa," katanya.
Dirinya juga menceritakan kesabaran dalam mendidik santri. Kiai Zuhdi muda ketika mondok di pelajaran Alfiyah Ibnu Malik, semua santri wajib menghafalkan belasan bait dalam seminggu.
Setoran langsung disimak oleh Kiai Yunus. Namun Kiai Zuhdi yang masih belia belum mampu menghafal dengan sesuai target berinisiatif untuk tetap bisa setoran.
Akhirnya, Kiai Zuhdi menulis bait demi bait di belakang papan tulis. Sehingga saat setoran ke Kiai Yunus bisa dibaca dengan lancar.