Menyelam, Risiko, dan Rasa Hormat kepada Laut
- Timur Angin untuk VIVA Jatim
Semakin tinggi risiko, semakin besar pula mitigasi yang harus disiapkan. Dalam operasi penyelaman teknis profesional, terutama offshore atau industrial diving, keberadaan hyperbaric chamber sering menjadi bagian penting mitigasi risiko. Pada operasi rig, kapal kerja, atau penyelaman komersial tertentu, chamber biasanya disiapkan dekat lokasi operasi untuk mengantisipasi decompression sickness atau kondisi darurat lainnya.
Decompression sickness atau yang sering disebut “the bends” terjadi ketika nitrogen membentuk gelembung di dalam darah dan jaringan tubuh akibat proses naik ke permukaan yang tidak aman atau paparan tekanan tinggi terlalu lama. Dampaknya dapat berupa nyeri sendi, gangguan saraf, mati rasa, kelumpuhan, hingga kematian. Dalam kondisi tertentu, kecepatan penanganan menjadi faktor yang sangat menentukan.
Teknologi seperti dive computer sangat membantu diver memantau kedalaman, ascent rate, dan batas aman penyelaman. Namun alat tetap membutuhkan disiplin dan keputusan manusia yang baik. Dalam diving, teknologi membantu mengurangi risiko, tetapi tidak pernah menghapus risiko sepenuhnya.
Karena itu technical diving seharusnya tidak dilakukan sembarangan atau sekadar demi sensasi rekreasi ekstrem. Semakin berpengalaman seorang diver, biasanya semakin memahami bahwa laut tidak perlu “ditaklukkan”.
Menariknya, sebagian besar keindahan laut tropis justru berada di kedalaman yang relatif aman untuk recreational diving. Terumbu karang paling sehat umumnya hidup di area yang masih mendapat cahaya matahari optimal, sekitar 5–20 meter. Di kedalaman inilah warna-warni coral terlihat paling hidup, schooling fish bergerak dinamis, penyu melintas tenang, dan cahaya matahari menciptakan pemandangan bawah laut yang luar biasa indah.
Banyak spot terbaik Indonesia justru dapat dinikmati aman pada kedalaman recreational. Raja Ampat, Bunaken, Alor, Wakatobi, Derawan, Banda, hingga Nusa Penida menghadirkan pengalaman kelas dunia tanpa harus mengejar kedalaman ekstrem.
Banyak diver berpengalaman justru menghabiskan waktu lama di kedalaman belasan meter, menikmati detail kecil kehidupan laut yang sering terlewat ketika terlalu fokus mengejar kedalaman. Slow dive di perairan dangkal sering menghadirkan pengalaman yang jauh lebih kaya dibanding sekadar mengejar angka depth di dive computer.