Post Warung Kopi dan Lipstick Effect
- Dokumen pribadi Iksan K. Sahri
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan sekitar 98% rekening masyarakat Indonesia memiliki saldo di bawah Rp100 juta, dengan rata-rata nominal hanya sekitar Rp1,7 juta per rekening. Sebuah keadaan yang mengindikasikan bahwa uang mereka hanya bisa dipakai ke kafe dibanding beli rumah atau pergi ke luar negeri. Hari ini masyarakat lebih memilih untuk menunda pembelian barang mahal dan beralih ke "kemewahan kecil" yang terjangkau. Secangkir kopi atau nongkrong di kafe menjadi cara murah untuk melepas stres dan memberi penghargaan pada diri sendiri (self-reward).
Hal yang menarik lagi adalah bahwa warung kopi belakang ini juga ikut menjamur dan cenderung menjadi lebih besar dari sebelumnya. Di Surabaya, misalnya fenomena Warkop STK (Sedulur Tuggal Kopi) yang membuka warkop di banyak titik di Surabaya memberikan sinyal bahwa warung kopi hari ini menuju pada satu titik tersendiri dibanding warung-warung kopi pada masa sebelum ini. Akan tetapi, fenomena STK hanya awal saja. Pada level yang sedikit berbeda, muncul pula Warkop Bening yang juga sudah punya beberapa cabang di kota Surabaya. Warkop Bening berbeda dengan STK yang masih mempertahankan tampilan tradisional warkop dengan bangku-bangku panjang, Bening tampil lebih kekinian dengan menyediakan tempat duduk yang lebih nyaman dengan ruangan ber-AC serta menu yang lebih variatif. Harga-harganya relatif lebih mahal dari STK dan warung kopi pada umumnya di Surabaya, tapi juga lebih murah dibanding kafe kebanyakan.
Senada dengan Warkop Bening, sekarang muncul pemain baru di Surabaya membawa merek Warkop Sentral yang ada Jl. A. Yani. Konsepnya mirip dengan Warkop Bening. Hanya saja, fenomena Post Warung Kopi ini membuka fenomena yang lebih pahit, yaitu bahkan untuk sekedar ke kafe saja bagi warga Surabaya hari ini terasa lebih mahal.
Penulis adalah dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, penikmat kopi.