Husain, Debaters Asal Desa Raih Perak di Kancah Dunia
- Dokumen Husain
Tips Sukses Bersaing di Dunia Global
Husain membagikan tips untuk menjadi pribadi yang mampu bersaing di kancah global dari pengalaman yang telah ia lewati. Baginya, untuk santri, pelajar, mahasiswa, dan remaja harus mengenali potensi diri. Kalau dirinya mempunyai hobi atau mempunyai kesenangan dalam bidang debat bahasa Arab.
"Temukan dulu, yang suka nyanyi. Temukan apakah nyanyi ini bener-bener potensi kalian. Setelah itu potensi tersebut jadikanlah hobi," bebernya.
Semasa sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 3 Blitar, ia mulai belajar Bahasa Arab. Masih dalam kegagalan, belum sampai berhasil. Baru sampai kuliah, ia menemukan tips dan menemukan potensi. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjadikan potensi ke sebuah hobi.
"Ketika kita mendalaminya bukan lagi menjadi beban, karena itu sudah menjadi hobi," jelasnya.
Tips selanjutnya, mahasiswa semester 6 ini menjelaskan harus ada penekanan-penekanan di dalam diri sendiri.
Seperti, di luar latihan bersama, latihan-latihan yang ada di kampus atau mungkin pelajaran di sekolah, ia mempelajari sendiri. Mempelajari cara debat, cara menyampaikan argumen diluar kurikulum yang ada atau pelajaran yang telah ia terima.
"Di luar pelajaran yang saya terima, saya belajar sendiri untuk menemukan atau belajar sesuai tingkat yang diinginkan oleh debater debater di duni," ulasnya.
Kemudian, public speaking. Alumnus Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar ini tidak memungkiri kemampuan ini menjadi syarat mutlak. Sebab tidak bisa dilatih sehari dua hari, melainkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Menurutnya pengembangan pola pikir kritis harus diimbangi pengembangan pola pikir public speaking di depan banyak orang.
Sebab, itu yang akan memberikan pemahaman kepada banyak orang. Selain itu, sebagai salah satu hal yang menurut saya paling bagus untuk menunjang kualitas sebuah seorang pemuda.
Pendidikan Pesantren Menunjang Logika Penalaran hingga Dasar Bahasa
Husain melanjutkan, dalam Lomba Debat Internasional, hampir sama cara berlogika menganalisis, mencari bukti, memberikan argumen seperti Bahstul Masa'il di pondok pesantren. Karena ia mengalaminya sendiri semasa nyantri beberapa tahun di pondok pesantren.
Perbedaan debat yang ia ikuti dengan Bahstul Masa'il terletak pada objek yang diperdebatkan. Jika Bahsul Masail tentang hukum fenomena kekinian, bagaimana hukum ibadah hingga muamalah dan seterusnya.