Lewat Kampung Lali Gadget, Achmad Irfandi Selamatkan Generasi Bangsa
- IG @kampunglaligadget
Agar program tersebut berjalan lebih masif, ia kemudian menggandeng para pemuda di Desa Pagerngumbuk dan daerah lain untuk bersama-sama berjuang mengentaskan kecanduan gadget pada anak. Mereka diberi tugas mulai dari perencana, pendamping, hingga fasilitator edukasi.
Lambat laun, giat di Kampung Lali Gadget ini mulai dilirik banyak pihak. Hingga di awal-awal mendirikan kegiatan konservasi budaya itu, sebanyak 475 anak dari Surabaya dan Sidoarjo berdatangan. Usaha yang dilakukan pria 28 tahun bersama koleganya itu pun membuahkan hasil.
Hal itu terlihat dari asyiknya anak-anak bermain aneka permainan tradisional berjam-jam tanpa kehadiran gadget. Ia pun menerapkan sistem permainan dan pembelajaran yang beragam. Setiap pekan, tema yang dihadirkan tidaklah sama. Namun permainan tradisional adalah unsur pokok yang harus selalu ada sebagai media pembelajaran.
Di antara beberapa jenis permainan tradisional yang disediakan dan dapat dibeli di sana dari warga sekitar adalah kitiran bambu, seruling suit, kitiran klutuk, toktok, bola bekel hingga gasing bunyi. Anak-anak dikenalkan dengan aneka permainan itu hingga mahir memainkannya. Di kampung itu, gadget benar-benar hilang dari peredaran anak-anak.
Inovasi dan kontribusi Achmad Irfandi ini pun akhirnya diapresiasi Astra lewat program SATU Indonesia Award tahun 2021 lalu. Baginya, mendidik dan mengentaskan kecanduan gadget pada anak sangatlah penting. Sebab mereka adalah penentu nasib bangsa di masa yang akan datang. Untuk itu perlu diselamatkan dengan berbagai edukasi, termasuk dengan permainan tradisional.