Santri Masa Kini: Antara Kitab Kuning dan Coding

Ilustrasi santri di pesantren.
Sumber :
  • Viva.co.id

Beberapa santri bahkan mulai mengembangkan aplikasi digital Islami seperti jadwal sholat, kitab digital, aplikasi zakat, dan platform belajar ngaji online. Mereka menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.

img_title Perekonomian Sunan Drajat Ajak 200 Pesantren Mandiri Secara Ekonomi

Seperti dikatakan oleh KH. Mustofa Bisri, “Santri itu harus bisa hidup di langit dan di bumi. Faham agama, tapi juga melek zaman.”

Tantangan dan Harapan

img_title Hadis ke-1 Arbain Nawawi: Amal Ibadah Tergantung pada Niatnya

Meskipun antusiasme tinggi, integrasi teknologi ke dalam sistem pesantren tak lepas dari tantangan. Keterbatasan infrastruktur, akses internet, dan kapasitas SDM masih menjadi kendala di banyak pesantren kecil di daerah.

Namun sinyal positif terus bermunculan. Pemerintah melalui program Santri Digitalpreneur dan Digital Talent Scholarship mulai melibatkan pondok pesantren dalam pemberdayaan teknologi. Beberapa NGO seperti Nusantara Foundation dan Dompet Dhuafa juga menggulirkan pelatihan coding untuk santri.

img_title Saat Kiai Anwar Iskandar dan Kiai Imjaz Kompak Bekali 680 Pesantren Rintisan

Santri masa kini sedang bergerak ke arah baru. Dari yang dulu hanya dikenal sebagai penjaga tradisi, kini mereka juga menjadi penjelajah masa depan. Mereka membaca *kitab kuning* untuk memahami hikmah ilahi, dan merangkai coding untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren—keikhlasan, kesederhanaan, dan akhlakul karimah—santri masa kini adalah harapan baru Indonesia: seimbang antara spiritualitas dan digitalitas.