Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia
- Istimewa
Indonesia tentu tidak perlu menyalin seluruh pendekatan tersebut. Karakter geografis, sistem kelistrikan, dan struktur industrinya berbeda. Namun, Indonesia perlu belajar bahwa percepatan transisi energi tidak pernah sepenuhnya bergantung pada teknologi. Ia bergantung pada kepastian kebijakan, kualitas institusi, dan kemampuan pemerintah dalam menghadirkan kepastian bagi investor. Karena itu, menurut saya, Roadmap 100 GW setidaknya harus dibangun berdasarkan lima agenda besar.
Pertama, roadmap spasial. Pemerintah perlu menetapkan secara jelas lokasi pengembangan PLTS nasional berdasarkan kesiapan lahan, intensitas radiasi matahari, kedekatan dengan jaringan transmisi, serta pusat-pusat permintaan listrik. Peta tersebut harus membedakan mana yang dikembangkan melalui PLTS darat (ground-mounted), PLTS terapung (floating solar), PLTS atap (rooftop), maupun sistem terdistribusi di wilayah kepulauan. Dengan demikian, target kapasitas tidak berhenti sebagai angka agregat, tetapi berubah menjadi proyek-proyek yang konkret.
Kedua, roadmap jaringan listrik. Tidak ada transisi energi tanpa transmisi. Potensi energi terbarukan terbesar di Indonesia tersebar jauh dari pusat konsumsi listrik. Karena itu, pembangunan jaringan transmisi harus diposisikan sebagai investasi strategis yang setingkat pentingnya dengan pembangunan pembangkit. PLN memegang peran sentral dalam agenda ini. Semakin kuat jaringan nasional, semakin besar pula kemampuan Indonesia untuk menyerap energi terbarukan dalam skala besar.
Ketiga, roadmap regulasi. Dunia usaha membutuhkan kepastian mengenai power wheeling, pembelian listrik hijau, Renewable Energy Certificate (REC), mekanisme perdagangan karbon, hingga penyederhanaan proses perizinan. Kepastian regulasi akan mempercepat investasi jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan insentif fiskal. Investor pada dasarnya mampu menghitung risiko bisnis, tetapi mereka sulit menghitung ketidakpastian kebijakan.
Keempat, roadmap industrialisasi. Program 100 GW seharusnya tidak berhenti sebagai proyek pembangunan pembangkit. Program ini harus menjadi momentum untuk membangun industri panel surya, baterai, inverter, kabel, sistem kontrol, hingga Battery Energy Storage System (BESS) di dalam negeri. Nilai tambah terbesar tidak berada pada panel yang dipasang, tetapi pada industri yang tumbuh di belakangnya. Jika dikelola dengan baik, target 100 GW dapat menjadi penggerak hilirisasi manufaktur nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.