Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Didik Prasetiyono saat jadi pembicara panel di Tactical Steps to Meet the Clean Energy Demand of the Industrial Sector” di Indonesia Solar Summit 2026
Sumber :
  • Istimewa

Kelima, roadmap permintaan (demand creation). Selama ini diskusi energi lebih banyak berfokus pada sisi pasokan (supply). Padahal pembangunan pembangkit harus diikuti oleh penciptaan permintaan yang kuat. Kawasan industri, pusat data (data center), kawasan ekonomi khusus, pelabuhan, bandara, kendaraan listrik, hingga elektrifikasi sektor komersial harus dipersiapkan sebagai pengguna utama listrik hijau. Dengan demikian, setiap megawatt yang dibangun memiliki kepastian pasar.

img_title Buka IIGCE 2026, Menteri Bahlil : Pemerintah Siap Permudah Izin Pengembangan Panas Bumi

Di sinilah saya melihat peran strategis kawasan industri. Kawasan industri bukan hanya konsumen listrik terbesar, tetapi juga dapat menjadi platform untuk mempercepat transisi energi. Melalui pengembangan utilitas bersama, sistem distribusi yang terintegrasi, manajemen energi digital, serta koordinasi antar tenant, kawasan industri mampu mempercepat pemanfaatan energi bersih dibandingkan dengan pendekatan yang dilakukan secara individual oleh masing-masing perusahaan.

Dalam konteks tersebut, saya meyakini bahwa PLN merupakan bagian dari solusi, bukan semata-mata objek kritik. Tantangan yang dihadapi PLN sangat kompleks: menjaga keandalan sistem nasional sekaligus mengintegrasikan bauran energi terbarukan yang terus meningkat. Justru karena itulah ruang dialog antara PLN, pemerintah, kawasan industri, investor, pengembang energi terbarukan, dan pemerintah daerah perlu semakin terbuka. Semakin cepat berbagai bottleneck dibicarakan secara jujur, semakin cepat pula solusi dapat dirumuskan bersama.

img_title Transisi Energi yang Tetap Menjaga Daya Saing Industri

Pada akhirnya, Indonesia tidak membutuhkan target yang lebih besar. Indonesia membutuhkan peta jalan yang lebih rinci.

Presiden telah memberikan arah melalui target 100 GW PLTS. Kini saatnya seluruh pemangku kepentingan menerjemahkan visi tersebut menjadi agenda implementasi yang terukur, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab dalam ekonomi hijau, yang akan memenangkan persaingan bukanlah negara yang memiliki matahari paling melimpah, melainkan negara yang paling cepat mengubah cahaya matahari menjadi listrik, listrik menjadi investasi, investasi menjadi industri, dan industri menjadi kesejahteraan.

img_title Barata Indonesia Kirim Reaktor B100 untuk Dukung Pengembangan Energi Terbarukan Nasional

Indonesia tidak pernah kekurangan matahari. Yang masih kita butuhkan adalah keberanian untuk menghilangkan bottleneck yang menghalangi cahaya itu menjadi kekuatan ekonomi bagi bangsa.

Penulis Adalah Pembicara pada panel “Tactical Steps to Meet the Clean Energy Demand of the Industrial Sector” di Indonesia Solar Summit 2026 yang Juga Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).