Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Didik Prasetiyono saat jadi pembicara panel di Tactical Steps to Meet the Clean Energy Demand of the Industrial Sector” di Indonesia Solar Summit 2026
Sumber :
  • Istimewa

Namun, justru karena target tersebut sangat besar, menurut saya Indonesia memerlukan sesuatu yang setara: Roadmap 100 GW. Target adalah arah. Roadmap adalah cara mencapainya. Tanpa peta jalan yang rinci, target sebesar apa pun berisiko berhenti menjadi angka yang menginspirasi, tetapi sulit diterjemahkan menjadi proyek yang dapat dibangun, dibiayai, dihubungkan ke jaringan listrik, dan dimanfaatkan oleh dunia industri.

img_title Dukung Energi Berkelanjutan, Perusahaan Furniture di Lamongan Resmikan PLTS Berkapasitas 1.605,8 kwp

Di Indonesia Solar Summit 2026, saya melihat sesuatu yang menarik. Hampir tidak ada lagi perdebatan mengenai apakah Indonesia perlu mengembangkan energi surya. Konsensus itu sudah terbentuk. Perdebatan justru bergeser pada pertanyaan yang jauh lebih penting: bagaimana target besar tersebut dapat diwujudkan secara realistis?

Dalam konteks itulah saya memandang target Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 100 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai visi yang layak diapresiasi. Pemerintah bahkan menyiapkan tahap awal sekitar 17 GW PLTS yang dipadukan dengan pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), dengan kebutuhan investasi yang diperkirakan mencapai lebih dari US$71 miliar. Besarnya target tersebut mengirimkan pesan yang kuat kepada dunia bahwa Indonesia ingin menjadi salah satu pemain utama dalam ekonomi hijau global.

img_title Buka IIGCE 2026, Menteri Bahlil : Pemerintah Siap Permudah Izin Pengembangan Panas Bumi

Namun, target sebesar itu memerlukan sesuatu yang setara: Roadmap 100 GW.

Target adalah kompas yang menunjukkan arah. Roadmap adalah peta yang menjelaskan bagaimana tujuan tersebut dapat dicapai. Tanpa roadmap yang jelas, target berpotensi menjadi angka yang menginspirasi, tetapi sulit diterjemahkan menjadi proyek-proyek yang dapat dibangun, dibiayai, dioperasikan, dan pada akhirnya dimanfaatkan oleh masyarakat maupun industri.

img_title Transisi Energi yang Tetap Menjaga Daya Saing Industri

Menurut saya, roadmap tersebut harus dimulai dari satu kesadaran sederhana bahwa tantangan Indonesia bukan lagi terletak pada sisi supply energi surya semata. Tantangannya adalah membangun ekosistem yang mampu menghubungkan sumber energi, jaringan listrik, industri, pembiayaan, serta kepastian regulasi dalam satu sistem yang utuh.

Persoalan pertama adalah lahan.

Dalam praktik internasional, pembangunan PLTS ground-mounted umumnya membutuhkan sekitar 1 hingga 1,5 hektare lahan untuk setiap 1 MW kapasitas. Artinya, apabila sebagian besar target 100 GW dibangun melalui pendekatan tersebut, kebutuhan lahannya dapat mencapai sekitar 100.000–150.000 hektare. Luasan tersebut hampir setara dengan luas satu kota besar.

Halaman Selanjutnya
img_title