Dosen Ubhara Surabaya Soroti Kepercayaan Publik terhadap Polri hingga Ancaman Siber
- Rachmad Fahrizal Tito
Fadeli juga mengingatkan bahwa tantangan keamanan saat ini tidak hanya berasal dari kejahatan konvensional akibat tekanan ekonomi, tetapi juga meningkatnya ancaman kejahatan siber. Ia mengutip data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025 dan lebih dari 1,5 miliar serangan pada periode Januari hingga pertengahan April 2026.
"Ancaman keamanan kini telah berpindah dari ruang fisik ke ruang digital. Karena itu, Polri harus memperkuat kapasitas teknologi, meningkatkan kompetensi penyidik siber, dan mempercepat respons di tingkat Polres maupun Polsek," ujarnya.
Menurut Fadeli, masyarakat membutuhkan kehadiran polisi yang benar-benar dirasakan, baik melalui patroli di titik rawan, respons cepat terhadap laporan warga, maupun penanganan profesional terhadap kejahatan digital. Ia juga menyoroti fenomena yang berkembang di masyarakat, yakni munculnya istilah No Viral, No Justice.
"Hukum jangan hanya bergerak ketika sebuah kasus viral di media sosial. Penegakan hukum harus tetap profesional, independen, dan berkeadilan tanpa harus menunggu tekanan publik," katanya.
Menutup orasi ilmiahnya, Fadeli berharap momentum Hari Bhayangkara ke-80 menjadi refleksi untuk memperkuat reformasi Polri yang lebih berorientasi pada pelayanan masyarakat.
"Polri harus memperkuat akuntabilitas, mempercepat digitalisasi layanan secara transparan, menutup ruang pungutan liar, serta memperkuat pengawasan eksternal agar kepercayaan masyarakat terus meningkat," pungkasnya.