Manifesto Muktamar NU Riang Gembira
- Nurcholis Anhari Lubis/Viva.co.id
SETIAP gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) selalu menghadirkan dua pemandangan yang bertolak belakang di lokasi yang sama. Di dalam ruangan, muktamir-in duduk berbaris rapi, dengan baju seragam batik hijau atau pakaian hitam-putih. Istilah muktamir-in adalah sebutan bagi ribuan utusan resmi, dari pengurus cabang hingga pengurus wilayah, yang pada Muktamar ke-35 ini diperkiraan mencapai enam ribu orang. Muktamir-in bergelut dengan agenda yang padat dan menegangkan: perdebatan tata tertib, penyusunan program kerja, pembahasan bahsul masail, hingga puncaknya, kontestasi politik memperebutkan kursi Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU.
Namun coba geser pandangan beberapa ratus meter ke luar arena utama Muktamar. Di pinggir jalan, di sepanjang trotoar, bawah pohon, dan di lapangan terbuka, terhampar pemandangan yang jauh berbeda. Lebih meriah dan gembira. Ribuan bahkan puluhan ribu warga NU kultural yang kerap disebut muktamir-out datang menggelar tikar, memakai sarung, membawa bekal seadanya, dan biasanya membutuhkan suvenir-suvenir muktamar. Mereka hadir tanpa undangan, tanpa fasilitas panitia, dan tanpa hak suara. Alasan kedatangan mereka sederhana: ngalap berkah, bersilaturahmi dengan sesama warga jamaah, dan merayakan kebanggaan atas rumah besar bernama Nahdlatul Ulama.
Sayangnya, panitia penyelenggara dari masa ke masa kerap terjebak dalam cara pandang birokratis. Warga kultural ini sering hanya dianggap “penggembira”, bahkan kadang dipandang sebagai beban logistik dan potensi kerumunan yang merepotkan pengamanan. Sudah saatnya cara pandang ini dirombak. Saya mengajukan sebuah gagasan sederhana yang disebut “Manifesto Muktamar NU Riang Gembira". Muktamar semestinya bukan ajang eksklusif segelintir elite struktural, melainkan pesta kerakyatan milik seluruh warga NU.
Istilah muktamir-in dan muktamir-out sebenarnya menggambarkan dualisme lama yang hidup dalam tubuh NU: antara jam’iyyah (organisasi) dan jamaah (komunitas warga). Yang pertama memikul amanat administratif; yang kedua memelihara denyut spiritual dan kultural NU yang sesungguhnya jauh lebih tua dari organisasi itu sendiri. Ketika energi Muktamar tersedot habis oleh dinamika politik internal, suasana yang tersisa kerap kaku dan tegang. Bahkan, sering kita temukan, jauh dari kehangatan yang selama ini dikenal sebagai ciri khas warga nahdliyin.