Defense Heritage Talk Series, Upaya Pemuda Katolik Lestarikan Sejarah Perjuangan Bangsa
- Dok. Pengurus Pusat Pemuda Katolik
Surabaya, VIVA Jatim –Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik terus konsisten dalam melestarikan sejarah perjuangan bangsa. Hal itu diwujudkan dengan peluncuran 'Defense Heritage Talk Series' melalui Zoom Meeting pada Sabtu kemarin, 12 April 2025.
Web seminar atau webinar ini juga diluncurkan dalam rangka menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025. Dihadiri sejumlah narasumber, antara lain Yazerlin Nadila Balqis, Wahju Marsudi Wibowo dan Jeanne Francoise.
Sekretaris Jenderal PP Pemuda Katolik, Lorensius Purba, mengatakan bahwa webinar defense heritage (warisan pertahanan) ini sebagai upaya mengenal kembali sejarah perjuangan bangsa. Sejalan dengan visi-misi organisasi yang ingin selalu hadir dalam konteks kebhinekaan dan ke-Indonesia-an.
"Apalagi di tengah arus globalisasi dan dinamika zaman yang terus berubah, penting bagi kita untuk senantiasa mengingat dan menghidupkan kembali semangat bela negara, jiwa patriotisme, dan ketangguhan bangsa yang menjadi bagian dari identitas dan karakter Indonesia," ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Viva Jatim, Minggu, 13 April 2025.
Ia menambahkan, webinar ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan Warisan Pertahanan sebagai platform pengetahuan, diskusi, dan pelestarian nilai-nilai strategis pertahanan nasional. Baik dari aspek sejarah, sosial, maupun budaya.
Ia berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran semata. Tetapi juga menjadi titik tolak kolaborasi berbagai pihak, seperti akademisi, praktisi, komunitas, dan generasi muda, untuk terus menyuarakan pentingnya ketahanan nasional dalam berbagai bentuk.
Pentingnya Belajar pada Sejarah
Di kesempatan itu, narasumber pertama, Yazerlin Nadila Balqis, menekankan pentingnya belajar para sejarah. Bahwa anak muda masa kini perlu belajar banyak pada anak muda masa lalu. Utamanya dalam konteks keberanian dan keikhlasan.
"Sebab dapat dibayangkan kalau pada era perjuangan, anak mudanya hanya mementingkan kelompoknya saja, maka tidak terbentuk kesatuan dan persatuan dalam melawan penjajahan," ungkapnya.
Yazerlin pun melaksanakan tur virtual ke tempat-tempat bersejarah di kota Surabaya. Seperti rumah kelahiran Presiden Soekarno, kantor pertama Bung Tomo, dan kosan para pejuang bangsa di Jalan Peneleh. Seolah-olah 115 peserta webinar sedang berada di kota Surabaya.
Yazerlin berupaya untuk terus melestarikan sejarah bangsa di kota Surabaya dengan kegiatan-kegiatan kolaboratif bertema sejarah dan budaya melalui Paguyuban Cak dan Ning Surabaya.