Legislator Gerindra Desak Kemenhub Atasi Maraknya Pendangkalan Alur Pelabuhan

Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim – Anggota Komisi VII DPR RI, Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono atau BHS menyoroti beberapa kasus pendangkalan alur pelayaran yang terjadi di beberapa pelabuhan di Indonesia. 

img_title BHS Desak Tambahan Anggaran UMKM Rp1,5 T untuk Perkuat Ekonomi

Beberapa kasus tersebut antara lain seperti yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Baai Bengkulu. Saat ini berujung pada tuntutan kepada PT Pelindo menyerahkan pengelolaan kepelabuhanan pada pihak pemerintah provinsi.

Kasus serupa juga terjadi di Pelabuhan Tanjung Api-api di Banyuasin Palembang, Pelabuhan Luwuk Banggai Sulawesi Tengah, Pelabuhan Mako Timika serta beberapa alur pelabuhan lain yang mengakibatkan seringnya terjadi tabrakan kapal. 

img_title Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, BHS Minta Pemerintah Tambah Anggaran Sektor Industri

Menurut BHS, hal itu terjadi akibat pendangkalan alur yang tidak terdeteksi. Bahkan kapal bisa kandas ataupun teradi kerusakan parah di dasar lambung kapal. Padahal menurutnya, alur pelayaran merupakan bagian penting dari trasnportasi laut dan aktivitas ekonomi suatu daerah. 

Jika terjadi pendangkalan di alur pelayaran, lanjut BHS, kapal  tidak akan bisa keluar masuk pelabuhan dengan lancar dan bahkan ada keterbatasan ukuran kapal. Sehingga mengakibatkan logistik menjadi mahal dan tidak efisien. 

img_title Sengketa Lahan TNI AL dengan Warga di 10 Desa di Pasuruan Mulai Temui Titik Terang

”Juga sangat membahayakan keselamatan dari kapal dan muatannya dan akan menghambat juga pertumbuhan ekonomi daerah, karena terhambatnya kapal akibat pendangkalan maupun keterbatasan ukuran kapal yg masuk di pelabuhan tersebut," kata BHS dalam keterangan tertulis yang diterima Viva Jatim, Minggu, 13 April 2025.

Seperti yang terjadi di Pelabuhan Baai Bengkulu serta alur pelabuhan Pontianak, pendangkalan sudah sangat hebat akibat belum dilakukannya pengerukan sejak 5 sampai 10 tahun yang lalu. 

Akibatnya kapal sering tersangkut karena kedalaman alur saat ini hanya berkisar 2-3 meter pada saat air surut. Sehingga kapal-kapal harus menunggu air pasang saat akan lewat di alur pelabuhan-pelabuhan tersebut. Kalaupun bisa melewati, harus menunggu waktu pasang air laut.

"Yang lebih terasa lagi dampaknya adalah pelabuhan tersebut tidak bisa menerima kapal-kapal berukuran besar. Sehingga, distribusi logistik menjadi terhambat. Biaya logistik laut pun melonjak akibat semua kapal harus menunggu air pasang bila akan melewati alur tersebut sampai berjam-jam bahkan berhari-hari dan ini tentu akan menghambat pergerakan logistik barang dari kapal menuju ke wilayah tersebut. Juga tidak jarang kapal-kapal yg akan lewat di alur tersebut saling bertabrakan karena memperebutkan alur kedalaman yang cukup untuk kapal mereka," ucapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title