Gus Ali Tag NU: Jangan Menunggu Musuh untuk Bisa Rukun

Pengasuh Ponpes Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali.
Sumber :
  • Achmad Faizal/Surabaya

Surabaya, VIVA Jatim-Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali menyampaikan pesan dalam Dialog Publik “Transformasi Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” sederhana, tetapi menyimpan kritik tajam terhadap kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU).

img_title DPT Muktamar ke-35 NU Belum Final, Panitia Target Rampung 22 Agustus

Di hadapan peserta dialog yang digelar Wartawan Pokja Grahadi, JUST, dan PMII Jawa Timur di Surabaya, Rabu, 12 Agustus 2026, Gus Ali mengingatkan bahwa kekuatan NU semestinya tidak lahir karena adanya musuh bersama. Persatuan harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena terpaksa menghadapi ancaman dari luar.

Gus Ali mengawali paparannya dengan mengutip ungkapan ulama hadis Sufyan bin Uyainah, “Inda dzikris-shalihin tanzilur-rahmah”—ketika nama orang-orang saleh disebut, rahmat turun.

img_title Gus Ipul Buka Suara soal Rencana Rapat AHWA di Rumah KH Wahab Hasbullah

Menurutnya, ungkapan tersebut kemudian diperkuat Imam Al-Ghazali. Namun, ada pesan penting yang menurut Gus Ali kerap luput yakni tradisi ulama terdahulu dibangun dengan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

“Ulama-ulama dulu itu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.

img_title Muktamar NU, LPJ PBNU, dan Energi Persatuan Abad Kedua NU

Dari konsep mahabbah atau kecintaan kepada orang saleh itulah, Gus Ali menarik persoalan ke tubuh NU. Ia menilai mahabbah merupakan salah satu modal sosial terbesar organisasi yang didirikan para ulama tersebut. Tetapi, justru di titik inilah kritiknya menjadi relevan.

Gus Ali menyebut NU kerap baru benar-benar kompak ketika memiliki musuh bersama. Dengan bahasa Jawa yang diselingi humor, ia mengatakan, “NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh.”

Kalimat itu mengundang tawa peserta. Pasalnya, pernyataan tersebut merupakan sindiran terhadap problem klasik organisasi: mengapa persatuan harus selalu menunggu datangnya ancaman?

“Dadi nek mungsuhe ora ono, rukun nek njero,” lanjutnya.

Gus Ali bahkan membawa contoh sejarah ketika NU menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurutnya, tekanan dan ancaman pada masa itu justru membuat warga NU bergerak bersama.

Ia menggambarkan bagaimana pembangunan masjid bisa berlangsung cepat ketika ancaman dirasakan bersama. Sebaliknya, ketika musuh tidak terlihat, energi internal justru berpotensi habis untuk persoalan sendiri.

“Dulu zaman PKI, nggawe masjid iku seminggu mari NU iku. Opo'o? Orah mungsuhe. Saiki? Ya Allah, nggawe masjid ditar-tarino,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title