Kiai Yunus Jajar Trenggalek Istiqomah Mengaji, Pernah Mondok 21 Tahun di Lirboyo Kediri

Kiai Zuhdi mengenang KH Muhammad Yunus Jajar Trenggalek
Sumber :
  • Viva Jatim/Madchan Jazuli

Trenggalek, VIVA Jatim – Salah satu kiai kharismatik asal Trenggalek yang istiqomah dalam mengemban amanah li i'laikalimatillah adalah Almaghfurlah KH Muhammad Yunus. Beliau tercatat mondok di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo selama 21 tahun.

img_title Muktamar NU Ke-35 Digelar di Tambakberas Jombang 27-31 Agustua

Beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Jajar, Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek Jawa Timur yang wafat pada 1 Januari 2010 silam.

Salah satu santri beliau adalah KH Sulaiman Zuhdi Ahmad asal Ngelo, Sukorame, Gandusari Trenggalek. Penulis disambut hangat oleh sang putera beliau untuk menghaturkan perihal wawancara selepas Shalat Jum'at.

img_title PBNU Survei 9 Pesantren Calon Lokasi Muktamar NU Ke-35, Ada Lirboyo

Teras ndalem Pondok Ngelo terasa sejuk dengan rimbunnya pepohonan. Tak berselang lama KH Zuhdi menemui penulis bersama abdi ndalem di teras. Usai menyampaikan maksud dan tujuan penulis, beliau seperti memutar waktu mengenang Kiai Yunus.

Lahir di Dusun Ngelo, Desa Sukorame pada 1929, almaghfurlah berasal tak jauh dari rumahnya berangkat mondok dan lama mondok di Lirboyo Kediri. Ketika sekembalinya pulang, oleh sesepuh disarankan mendirikan sebuah madrasah.

img_title Fikih, Tahu Diri, dan Marwah Kepemimpinan NU

Benar saja, jumlah santri yang belajar mengaji berkembang menjadi ratusan yang berasal dari wilayah sekitar.

Beliau tidak ingat mulai tahun berapa ngangsu kaweruh di Lirboyo. Namun masih teringat jelas kepulangan beliau dan diminta untuk menghidupkan madrasah di lingkungan Pondok Ngelo, Sukorame Gandusari.

"Mbah Unus (sebutan Kiai Yunus) sekitar 1958 itu pulang sama sesepuh sini disuruh mendirikan madrasah. Lalu, sekitar tahun 60 mau balik ke pondok. Lha kalau kamu tinggal di pondok siapa yang mau meneruskan ini," kata Kiai Zuhdi menirukan sang sesepuh berpesan ke Mbah Unus, ditemui di teras ndalem, Sabtu, 19 Juli 2025.

Akhirnya Kiai Yunus tidak jadi balik ke pondok. Alhasil, di madrasah ini mulai besar hingga sekitar 800 santri. Ia mengenang saat itu masih kelas 0 masih mengetahui proses pembuatan kamar santri yang berada diatas kamar mandi.

Kiai Zuhdi melanjutkan, pada tahun 1961 Kiai Yunus diambil menantu oleh Gus Qomaruddin (putra dari Kiai Badruddin Jajar) untuk dinikahkan kepada sang adik Bu Nyai Hilaliyah. Akhirnya, Kiai Zuhdi mondok di Jajar dan masuk kelasnya Kiai Yunus.

Halaman Selanjutnya
img_title