Ada 20 Catatan Dosen UIN SATU Tulungagung ke Buku 'Surat Cinta Gus Nadir'
- Viva Jatim/Madchan Jazuli
Kedelapan, Nafis menilai isi buku ibarat ia sedang kulakan bahan ceramah atau khutbah. Sehingga cocok bagi dai/daiyah baik milenial atau kolonial. Kesembilan, buku ini menjadi bahan materi bagi motivator karena banyak yang bisa dijadikan quotes atau kata mutiara.
Kesepuluh, saat Nafis hendak menandai kalimat-kalimat yang penting supaya mudah dibaca dan dihafalkan awalnya tidak ada masalah. Alhasil, mengalami kebingungan karena saya menemukan banyak kalimat penting.
"Sehingga hampir semua saya tandai dengan bahasa lain isinya daging semua," akuinya.
Dosen yang juga pernah sebagai Pengurus Cabang Lembaga Dakwah NU Tulungagung ini catatan kesebelas membaca buku ini tidak bisa diloncat-loncat. Misalnya dari paragraf satu pindah loncat ke paragraf tiga atau empat. Sebab akan sulit menemukan keutuhan pesan yang disampaikan penulis.
Kedua belas, Nafis mengakui kuatnya nilai nasionalisme yang terpendam dalam pesan penulis dalam buku ini. Lalu, ketiga belas penulis juga sering menguatkan pendapatnya dengan kajian dan riset yang ilmiah sehingga semakin kuat argumen yang dibangun.
"Keempat belas, penulis bukan hanya seorang akademisi dan ulama. Namun lebih dari itu juga sastrawan yang gaul dan 'ketjhe badai' terbukti guratan2 syair yang begitu apik nan indah," paparnya.
Kelima belas, Nafis mencoba membaca tema hampir akhir, saat Jibril bertemu kekasih maka tak terasa air mata menetes dan bulu kuduk merinding seraya terpampang jelas kejadian itu di kelopak dua mata Nafis.